Ditangan Heirrie Buchaery, Sonata, Deny Kurniawan, dan Edy Daroni, Produser rekaman ini menugaskan mereka untuk menangani penggarapan rekaman Budi Cilok,karena dianggap mampu dan berpengalaman menangani berbagai macam project besar Iwan Fals.
Agar para OI (sebutan bagi fans Iwan Fals.red) tidak salah persepsi dengan lahirnya album “Sewajarnya” dari Budi Cilok,maka mereka memoles dan mengarahkan suara Budi yang timbrenya dengan sekali dengan warna vokal Iwan,kearah musik yang sedikit berbeda.
“Ini adalah benar-benar keinginan kami untuk mengisi ruang dengar industri rekaman Indonesia,” ujar Ainul kepada wartawan.
Lagu yang menjadi berbeda atas kerja keras mereka adalah “Sepertiga malam” karya Budi Cilok sendiri,dengan musik garapan Sonata. Dikemas dengan tema balada, musik bertutur. Juga pada lagu “Rapuh Bertahan” masih karangan Budi Cilok, menjadi berwarna Ballad Rock, walaupun masih ada pengaruh Iwan Fals didalamnya.
Namun pada kenyataannya Budi mampu mengeluarkan karakter vokalnya sendiri,ketika harus masuk pada lagu-lagu berwarna Rock yang tegas,bahkan kental sekali warna metalnya, seperti yang dapat didengar dalam lagu “Rombak” yang dicipta dan diaransemen oleh Sonata.
Tampil beda lagi ketika Budi berkolaborasi dengan Babong,Rudal,dan Paunk,yang membuahkan satu lagu dengan warna speed metal dengan judul “Pergerakan”. “Saya juga suka musik metal, lagu ini buat ke panggung,” papar budi saat ditemui disela-sela pressconference di Rooling Stone cafe, Kemang Jakrta Selatan, Kamis (29/8).
Namun ada satu yang unik ketika ditampilkannya lagu “Syukur” ciptaan Theo Singgih,yang bertema realigi sangat pas ketika Album ini dirilis pas Idhul Fitri 1434H. Lagu ini terdengar ngepop,minimalis,agak dominan suara gitarnya. Sejenis dengan lagu “Titik Mimpi” karya Sonata dan “Sewajarnya” karya Budi Cilok yang dominan dengan gitar akustiknya.

0 komentar:
Posting Komentar